Perajin di Jombang Sulap Drum Bekas Jadi Jidor
Dalam sehari, Ardani mampu memproduksi hingga lima unit jidor, tergantung kondisi cuaca dan jumlah tenaga yang membantunya.
JOMBANG – Berbekal keterampilan otodidak, seorang perajin di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berhasil menyulap drum bekas menjadi jidor atau bedug bernilai ekonomi tinggi. Menjelang dan selama bulan Ramadan, permintaan jidor meningkat drastis karena banyak digunakan untuk membangunkan sahur maupun perayaan Idul Fitri.
Adalah Ardani, warga Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Jombang, yang menekuni usaha kerajinan jidor dari drum bekas sejak dua tahun terakhir. Ide tersebut muncul ketika ia melihat banyak drum bekas yang tidak terpakai. Dari situlah muncul gagasan untuk mengolahnya menjadi jidor yang kini banyak diburu masyarakat.
“Awalnya saya belajar otodidak dari media sosial. Drum ini saya pikir bisa dimanfaatkan, akhirnya saya buat jadi jidor. Saat Ramadan sampai Idul Fitri, pesanan lumayan banyak,” ujar Ardani, Selasa (3/3/2026).
Proses pembuatan jidor terbilang sederhana, namun membutuhkan ketelitian agar menghasilkan suara khas yang nyaring dan berkualitas. Selain drum bekas sebagai bahan utama, Ardani menggunakan kulit kambing jantan sebagai penutup jidor. Kulit kambing jantan dipilih karena lebih tebal dan tidak mudah robek dibandingkan kulit kambing betina.

Dalam sehari, Ardani mampu memproduksi hingga lima unit jidor, tergantung kondisi cuaca dan jumlah tenaga yang membantunya. Harga jidor bervariasi sesuai ukuran dan model, mulai dari Rp900 ribu untuk satu sisi, Rp1,8 juta untuk dua sisi, hingga Rp2 juta untuk model lengkap.
Tak hanya melayani pesanan lokal Jombang, hasil kerajinan jidor buatan Ardani juga diminati pembeli dari luar daerah. Sejumlah pesanan datang dari Sidoarjo, Surabaya, hingga beberapa wilayah di Provinsi Jawa Tengah.
“Paling banyak pesanan dari Jombang, Sidoarjo, Surabaya, sampai Jawa Tengah. Sehari maksimal bisa lima jidor, tergantung cuaca dan yang bantu,” ungkapnya.
Berkat usaha musiman tersebut, Ardani mengaku mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah selama bulan Ramadan. Dalam satu musim produksi, pendapatannya bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp35 juta.
“Alhamdulillah, hasilnya bisa sampai sekitar Rp30–35 juta selama Ramadan,” paparnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



