Bedah Buku “Parenting di Negara Gagal” di Jombang, Kalis Mardiasih Ajak Orang Tua Tetap Waras Mengasuh Anak
Bait Kata School Jombang gelar bedah buku "Parenting di Negara Gagal" bersama Kalis Mardiasih. Soroti pengasuhan anak di tengah minim keteladanan publik, hilangnya ruang aman bermain.
JOMBANG – Bait Kata School Jombang menggelar bedah buku bertajuk Parenting di Negara Gagal karya penulis sekaligus pegiat isu perempuan, Kalis Mardiasih. Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan berlangsung di halaman Bait Kata Library Jombang, Sabtu (23/5/2026).
Dalam forum bertema *Menjadi Orang Tua Waras Berprinsip Cinta di Masa Kini* tersebut, Kalis mengajak para orang tua untuk tetap waras dan kritis dalam mengasuh anak di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, hingga politik yang terjadi di Indonesia.
Menurut Kalis, tantangan pengasuhan anak saat ini semakin kompleks. Orang tua, kata dia, harus mengajarkan nilai-nilai kejujuran dan moral kepada anak di tengah minimnya keteladanan yang ditampilkan di ruang publik.
“Kita mengajari anak tentang kejujuran, tapi perilaku koruptif dan kebohongan justru sering dipertontonkan di sekitar kita,” ujarnya di hadapan peserta diskusi.
Dalam pemaparannya, Kalis menegaskan bahwa pengasuhan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga semata. Ia menilai kualitas pengasuhan juga sangat dipengaruhi kebijakan negara dan kondisi sosial masyarakat.
“Saya dulu anak orang miskin. Bapak saya tukang becak dan ibu saya ibu rumah tangga. Dari kecil diajari bahwa kalau rajin belajar pasti sukses,” tuturnya.
Namun, pengalaman hidup membuatnya memahami bahwa kerja keras dan kecerdasan saja terkadang belum cukup. Menurutnya, faktor kekuasaan dan relasi sosial juga sering menentukan masa depan seseorang.

“Walaupun rajin dan berprestasi, kadang ada orang lain yang bisa menyalip lewat jalur orang dalam,” katanya.
Selain itu, Kalis juga menyoroti perubahan pola hidup anak-anak masa kini, termasuk soal ruang bermain dan kebiasaan makan. Ia menyebut banyak anak kehilangan ruang aman untuk bermain karena semakin sempitnya ruang publik ramah anak.
“Dulu anak-anak bisa bermain di lapangan rumput, sungai, atau alam terbuka. Sekarang tempat-tempat itu banyak yang hilang,” ungkapnya.
Menurutnya, hilangnya ruang aman bagi anak merupakan persoalan struktural yang perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya masalah keluarga.
Kalis bahkan menyebut bukunya sebagai “buku parenting politik” karena membahas pengasuhan dalam konteks sosial dan kebijakan negara. Baginya, tulisan tersebut lahir dari rasa cinta dan kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
“Saya yakin masih ada harapan. Karena itu kita harus terus berbuat sesuatu,” tegasnya.
Sementara itu, penggerak Komunitas Rangkul Jombang, Nadhroh Jauharoh, menekankan bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama.
Ia memperkenalkan prinsip C.I.N.T.A dalam pola pengasuhan anak di tengah kondisi sosial yang dinilai tidak selalu ideal.
“C adalah cari cara terbaik, I adalah ingat impian tinggi, N adalah nerima tanpa drama, T adalah tidak takut salah, dan A adalah asyik bermain bersama,” jelasnya.
Menurut Nadhroh, prinsip tersebut diharapkan mampu membantu para orang tua menjalani proses pengasuhan dengan lebih hangat, realistis, dan penuh harapan.
Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai komunitas dan latar belakang, mulai wali murid, komunitas taman baca masyarakat, jaringan Gusdurian, komunitas Rangkul Jombang, hingga kelompok guru dari berbagai daerah di Jombang dan sekitarnya.
Acara dipandu oleh dosen Fakultas Hukum UGM, Nabiyla Risfa Izzati. Selain bedah buku, Bait Kata School bersama Green Red Hotel Syariah juga menghadirkan berbagai kegiatan ramah anak seperti lomba menggambar dan menghias kue untuk peserta keluarga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

