TIMES JOMBANG, JOMBANG – Perguruan Silat Pagar Nusa (PN) menggelar kegiatan napak tilas dalam rangka memperingati hari lahir ke-40, Jumat (2/1/2026) malam. Dengan berjalan kaki, ratusan pendekar Pagar Nusa se-Kecamatan Diwek melakukan ziarah ke makam para pendiri Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama (NU) di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang.
Kegiatan napak tilas tersebut diikuti ratusan anggota Pagar Nusa yang tergabung dalam Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa Diwek. Para peserta terlebih dahulu berkumpul di Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek sebelum memulai perjalanan.
Rombongan kemudian berjalan kaki menuju Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng untuk berziarah ke makam KH Syamsuri Baidawi, salah satu pendiri Pagar Nusa. Ziarah dilanjutkan ke kompleks makam para pendiri NU di Pondok Pesantren Tebuireng, sebagai bentuk penghormatan dan refleksi atas perjuangan para ulama.
Setelah salat Isya, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session yang membahas sejarah Pagar Nusa, nilai-nilai pencak silat, serta sesi tanya jawab bersama para pembina dan pengurus PAC PN Diwek.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Mandataris PAC Pagar Nusa Diwek, Gus Anwar Kholili, serta para pembina, di antaranya Gus Variz Muhammad Mirza dan Gus Galih.
Ketua Panitia Harlah Pagar Nusa Diwek, Sayyid, mengapresiasi antusiasme dan kehadiran seluruh peserta. Menurutnya, keikutsertaan para pendekar menjadi kunci suksesnya acara.
“Kehadiran panjenengan semuanya inilah yang menjadi titik kesuksesan kegiatan hari ini,” ujar Sayyid dalam keterangan yang diterima TIMES Indonesia, Sabtu (3/1/2026).
Sementara itu, Ketua Mandataris PAC Pagar Nusa Diwek, Gus Anwar Kholili, menegaskan bahwa peringatan harlah tidak semata bersifat seremonial.
“Peringatan harlah Pagar Nusa yang paling penting adalah maknanya. Bagaimana kita memahami sejarah, menjaga nilai, dan meneruskan perjuangan para pendiri,” tuturnya.
Gus Anwar berharap ke depan peringatan harlah Pagar Nusa dapat digelar dengan konsep yang lebih matang dan substansial.
Dalam sesi diskusi, Gus Variz Muhammad Mirza menekankan bahwa pencak silat Pagar Nusa tidak hanya berorientasi pada kekuatan fisik, tetapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas.
“Pencak silat bukan hanya olah raga tubuh, tapi juga olah jiwa. Pagar Nusa identik dengan pesantren, maka nilai-nilai pesantren seperti tawadhu dan tidak angkuh harus melekat pada diri setiap anggota,” jelasnya.
Gus Variz juga mengingatkan agar para pendekar tidak melupakan akar sejarah dan jati diri Pagar Nusa. “Boleh berkembang dan mengeksplorasi kemampuan, tapi jangan sampai meninggalkan aspek ruhani dan nilai dasar,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Gus Galih yang menekankan pentingnya kualitas anggota dibanding kuantitas. Menurutnya, kekuatan Pagar Nusa terletak pada karakter dan tanggung jawab setiap pendekarnya.
“Saya tidak melihat banyak atau sedikitnya anggota, tapi bagaimana kualitas panjenengan. Lebih baik sedikit tapi berkualitas daripada banyak tapi tidak berkarakter,” ujarnya.
Gus Galih juga mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati antarperguruan silat. Ia menegaskan bahwa Pagar Nusa lahir sebagai wadah pemersatu berbagai aliran pencak silat di lingkungan NU agar tidak terpecah, serta tetap berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dan nilai-nilai NU.
“Silakan menambah saudara, tapi pondasinya harus dikuatkan terlebih dahulu. Kualitas harus berjalan seiring dengan kuantitas,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Pagar Nusa merupakan badan otonom NU yang mewadahi perguruan pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama. Perguruan ini berdiri pada tahun 1986 dan berperan tidak hanya dalam pelestarian seni bela diri tradisional, tetapi juga dalam pembinaan karakter, akhlak, dan nasionalisme generasi muda.
| Pewarta | : Rohmadi |
| Editor | : Imadudin Muhammad |