TIMES JOMBANG, JOMBANG – Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menemukan paparan mikroplastik di sejumlah sungai di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Hasil pemantauan di tiga titik berbeda menunjukkan bahwa mikroplastik jenis fiber menjadi temuan paling dominan. Jenis ini umumnya berasal dari serat tekstil sintetis, limbah cucian, serta aktivitas domestik masyarakat.
Tiga lokasi pengambilan sampel meliputi kawasan Depan Polres Jombang, Depan Lapas Jombang, dan Jatirejo, Cukir. Dari ketiga titik tersebut, wilayah Jatirejo Cukir mencatat jumlah mikroplastik tertinggi.
Di titik depan Polres Jombang, peneliti menemukan 13 partikel mikroplastik, seluruhnya berupa fiber. Tidak ditemukan mikroplastik jenis film maupun fragmen di lokasi ini. Sementara di Depan Lapas Jombang, jumlah mikroplastik mencapai 14 partikel, terdiri dari 10 fiber, 1 film, dan 3 fragmen. Kehadiran film dan fragmen menunjukkan sumber pencemar yang lebih beragam, termasuk dari plastik kemasan sekali pakai.
Adapun temuan terbanyak berada di Jatirejo, Cukir, dengan total 16 partikel mikroplastik, yang terdiri atas 13 fiber, 2 film, dan 1 fragmen. Dominasi fiber di lokasi ini mengindikasikan kuatnya pengaruh limbah domestik terhadap pencemaran mikroplastik di lingkungan sekitar.
Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa mikroplastik jenis fiber hampir selalu mendominasi dalam riset-riset yang dilakukan di kawasan perkotaan dan permukiman padat.

“Fiber ini paling banyak berasal dari aktivitas sehari-hari, terutama mencuci pakaian. Serat sintetis terlepas, masuk ke saluran air, kemudian bermuara ke sungai dan lingkungan,” jelas Rafika saat memaparkan hasil temuan, Senin (19/1/2026).
Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa temuan mikroplastik bukan sekadar data statistik, melainkan peringatan serius terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesehatan manusia.
“Mikroplastik tidak berhenti di air. Ia masuk ke rantai makanan, dimakan ikan, dan akhirnya kembali ke tubuh manusia. Ini ancaman jangka panjang yang sering dianggap remeh,” tegas Prigi.
Sementara itu, Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menilai tingginya paparan mikroplastik di Jombang tidak terlepas dari lemahnya sistem pengelolaan limbah domestik.
“Selama pengolahan air limbah rumah tangga belum dibenahi secara serius, mikroplastik akan terus mengalir bebas ke lingkungan,” ujarnya.
Paparan hasil temuan ini disampaikan dalam kegiatan edukasi lingkungan yang digelar di MA MTs Al Hikam Jatirejo, Kecamatan Diwek, Jombang, pada Senin (19/1/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh pelajar, guru, serta pegiat lingkungan.
Kepala MA Al Hikam Jatirejo, Matuhah Mustiqowati, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi tentang bahaya mikroplastik perlu ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.
“Kami ingin siswa tidak hanya paham secara teori, tetapi juga sadar bahwa perilaku sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap lingkungan,” katanya. (*)
| Pewarta | : Rohmadi |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |