Sambut Muktamar ke-35 NU, IKABU Tambakberas Gelar Bedah Buku dan Talkshow Khittah NU
Suasan bedah buku dan talkshow yang diselenggarakan oleh IKABU di Aula MAN 3 Jombang, Sabtu (8/8/2026). (FOTO: Panitia Lokal)

Sambut Muktamar ke-35 NU, IKABU Tambakberas Gelar Bedah Buku dan Talkshow Khittah NU

Sambut Muktamar ke-35 NU di Jombang, IKABU Tambakberas menggelar bedah buku karya Prof Zainuddin untuk membahas Khittah NU, kiai, dan pemikiran masa depan NU.

TIMES Jombang,Minggu 9 Agustus 2026, 09:56 WIB
369
R
Rohmadi

JOMBANGMenjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, berbagai elemen masyarakat terus mengambil bagian untuk menyukseskan hajatan besar tersebut. Salah satunya Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) yang menggelar acara bedah buku dan talkshow di Aula MAN 3 Jombang, Sabtu (8/8/2026).

Mengusung tema "Khittah NU, Kiai, dan Pesantren: Merawat Moderasi, Menjaga NKRI", kegiatan tersebut membedah buku karya mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2021–2025 yang juga alumni MAN 3 Jombang PPBU, Prof. Dr. Drs. HM. Zainuddin, BA., MA.

Diskusi ini tidak hanya mengupas isi buku, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai masa depan NU, posisi kiai, peran pesantren, serta tantangan organisasi di tengah dinamika perubahan masyarakat global.

Khittah NU sebagai Kompas dan Arah Gerak Organisasi

Salah satu pemantik diskusi, Prof. Nur Ali, menegaskan bahwa Khittah NU tidak semestinya dipahami sebatas dokumen hasil keputusan politik-kebangsaan tahun 1984 di Situbondo semata. Menurutnya, Khittah NU harus menjadi kompas dalam menentukan arah gerak organisasi dan kehidupan warga Nahdliyin.

"Khittah NU harus menjadi dasar dan arah berpikir sekaligus landasan etik dan moral warga Nahdliyin, termasuk para peserta Muktamar NU ke-35," ujarnya dalam keterangan yang diterima TIMES Indonesia, Minggu (9/8/2026).

Prof. Nur Ali menambahkan, pesantren dan kiai memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai NU. Kiai berperan sebagai pengawal nilai, sedangkan pesantren menjadi laboratorium sosial yang terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Prof. Zainuddin dalam pemaparannya mengajak peserta diskusi melihat kembali arah NU di tengah perubahan global. Ia menyoroti pergeseran peran kiai di masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.

Melalui bukunya, Prof. Zainuddin menawarkan gagasan mengenai langkah NU, kiai, dan pesantren dalam menjaga tradisi dan moderasi tanpa kehilangan relevansi menghadapi tantangan zaman.

Menurutnya, agenda penting yang harus menjadi perhatian Muktamar ke-35 adalah menyiapkan kepemimpinan NU sekaligus merancang program strategis organisasi untuk lima tahun mendatang.

"Perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan, yaitu bagaimana mempersiapkan pemimpin NU pada Muktamar mendatang dan bagaimana merancang program lima tahun ke depan atau road map," papar Prof. Zainuddin.

Teladan Ulama dan Kepemimpinan Masa Depan NU

Diskusi semakin dinamis ketika mantan Bupati Tuban dua periode, H. Fathul Huda, mengajak para santri untuk meneladani rekam jejak perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab). Karakter Mbah Wahab yang cerdas, enerjik, dan berani mengambil sikap tegas merupakan nilai penting yang perlu diwarisi generasi muda NU.

"Al-Mar'u Ma'a Man Ahabba, seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Apa yang dilakukan Mbah Wahab itu sudah komplit, baik kecerdasan beliau, enerjik, dan pemberani mengambil sikap. Itu yang harus kita copy paste sebagai santri," tutur Fathul Huda.

Pesan senada mengenai kepemimpinan NU disampaikan oleh putri Mbah Wahab, Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, MA. Ia mengingatkan pentingnya menghadirkan kepemimpinan PBNU yang mampu memberikan keteduhan, mengayomi, sekaligus menjadi teladan bagi warga Nahdliyin.

"Kepemimpinan PBNU harus mencontoh kepemimpinan Kiai Hasyim, Kiai Wahab, dan Kiai Bisri," pesannya.

Menurut Nyai Hizbiyah, keteladanan para ulama pendiri menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan organisasi ke depan. Kepemimpinan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan organisatoris, tetapi juga oleh keteladanan moral dan kedekatan dengan umat.

Forum bedah buku dan talkshow ini digagas oleh para alumni Bahrul Ulum yang kini berkiprah sebagai pengasuh pesantren, guru besar, akademisi, hingga praktisi. Mereka berharap momentum Muktamar ke-35 NU tidak sekadar menjadi ajang pengambilan keputusan organisasi, melainkan juga ruang refleksi dan perumusan gagasan strategis bagi masa depan NU.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Yayasan PPBU KH Abdur Rozaq Sholeh, Ketua Majelis Pengasuh PPBU Dr. KH Hasib Wahab Hasbullah, Kepala MAN 3 Jombang H. Sutrisno, S.Pd., M.E., M.Pd., serta Ketua Panitia Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag. Hadir pula pemantik diskusi Prof. Dr. Drs. H. Nur Ali, M.Pd., yang menjabat Ketua Ikatan Alumni MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas dan Ketua Senat UIN Malang. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Sekretaris Yayasan UNWAHA Jombang, KH Moh. Syifa' Malik, M.Pd.I. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Rohmadi
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jombang, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.