Bedah Buku Mbah Wahab di Unwaha Jombang, Gus Yahya Ingatkan Cikal Bakal Berdirinya NU
Ketum PBNU Gus Yahya mengulas rekam jejak dan cara berpikir KH Abdul Wahab Chasbullah dalam acara Bedah Buku di Unwaha Tambakberas Jombang.
JOMBANG – Suara dan suasana di Auditorium Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Sabtu malam (15/8/2026), terasa hangat saat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengulas sosok KH Abdul Wahab Chasbullah.
Mengenakan kemeja putih dan bawahan gelap, Gus Yahya melangkah ke podium dalam acara Istighotsah dan Bedah Buku KH Abdul Wahab Chasbullah. Di hadapan para dzuriyah, ulama, akademisi, serta warga Nahdliyin, ia mengajak hadirin merunut kembali perjalanan panjang Mbah Wahab sebelum Nahdlatul Ulama berdiri.
Acara tersebut sekaligus menjadi rangkaian menyambut Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Adapun buku yang dibedah berjudul KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI karya H Abdul Mun'im DZ. Buku setebal 262 halaman itu diterbitkan oleh Unwaha Press pada 2024.
Dalam orasi ilmiahnya yang berlangsung lebih dari satu jam, Gus Yahya memaparkan rekam jejak pemikiran Mbah Wahab. Ia membawa hadirin menengok kembali masa Perang Dunia I yang meletus pada 1914, saat Mbah Wahab menuntut ilmu di Makkah.
Menurut Gus Yahya, Makkah pada masa tersebut merupakan salah satu pusat intelektual Islam dunia karena menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan pelajar dari berbagai negara.
“Sehingga wakil-wakil Islam di seluruh dunia bisa ditemukan di Makkah,” ujar Gus Yahya.
Tak hanya menimba ilmu agama, Mbah Wahab aktif dalam gerakan pergerakan. Sepulang dari Makkah, ia mulai membangun kesadaran kebangsaan melalui berbagai wadah organisasi.
Pada 1916, Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan yang awalnya menjadi ruang diskusi strategis bagi kalangan muda. Dalam perkembangannya, Nahdlatul Wathan bertransformasi menjadi lembaga pendidikan madrasah dan memiliki cabang di sejumlah daerah.
Dua tahun berselang, pada 1918, Mbah Wahab bersama kalangan santri mendirikan Nahdlatut Tujjar sebagai gerakan penopang ekonomi yang menghimpun para saudagar di Surabaya dan sekitarnya.
Pada tahun yang sama, wadah pemikiran bagi para kiai dan aktivis pesantren juga dibentuk melalui Tashwirul Afkar.
Gus Yahya menegaskan, ketiga elemen gerakan tersebut menjadi cikal bakal penting yang melahirkan Nahdlatul Ulama pada 1926.
“Nah, tiga lembaga itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya NU yang dideklarasikan pada 1926,” katanyam disambut tepuk tangan hadirin.
Diselingi Humor dan Dihadiri Para Dzuriyah
Penyampaian Gus Yahya tidak hanya diisi pemaparan sejarah, tetapi juga diselingi humor. Salah satunya saat ia menyinggung KH M Hasib Wahab, putra Mbah Wahab yang duduk di barisan depan.
“Mendengar pidato Kiai Hasib itu harus cermat. Karena itu suara Kiai Hasib sendiri atau sebagai Mbah Wahab,” ujar Gus Yahya, yang langsung disambut gelak tawa hadirin.
Sejumlah keluarga Mbah Wahab tampak hadir dalam kesempatan tersebut. Di antaranya Hj Hizbiyah Wahab, mantan Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab, cucu Mbah Wahab Solachul Aam Wahib Wahab, serta cicitnya, Romahurmuzy (Romi).
Hadir pula perwakilan dzuriyah Syaikhona Kholil Bangkalan—salah satu guru utama para pendiri NU—seperti KH Makki Nasir dan KH Imam Bukhori Kholil. Selain itu, perwakilan pesantren besar di Jombang seperti Tebuireng, Denanyar, dan Rejoso Peterongan turut menyimak jalannya acara.
Sementara sang penulis buku, H Abdul Mun'im DZ, turut hadir di jajaran depan. Acara diakhiri dengan penyerahan penghargaan kepada puluhan keturunan pendiri NU.
Spirit Muktamar ke-35 NU
Menutup penyampaiannya, Gus Yahya menekankan pentingnya meneladani pola pikir Mbah Wahab. Menurutnya, Mbah Wahab merupakan sosok visioner yang mampu membaca arah perubahan zaman.
Ketika dunia berubah, fokus utamanya bukan sekadar mempertahankan warisan masa lalu, melainkan menentukan langkah strategis untuk masa depan. Cara berpikir inilah yang dinilai relevan menjadi spirit utama Muktamar ke-35 NU.
“Ini semangat Mbah Wahab yang harus menjiwai Muktamar ke-35 NU. Ini muktamar yang istimewa karena persis di tahun ke-100 dalam penanggalan Masehi. Tempatnya di pesantren tempat lahirnya pendiri NU,” tutur Gus Yahya.
Ia menitipkan pesan kepada seluruh muktamirin dan warga Nahdliyin yang kelak hadir di Tambakberas.
“Jangan sampai menginjakkan kaki di bumi Tambakberas tapi lupa kepada Mbah Wahab,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

