Alternatif Ngabuburit Syahdu di Tepian Sungai Brantas Megaluh Jombang
Warga Jombang padati Tambangan Prau Nogo Joyo di Megaluh untuk ngabuburit. Nikmati suasana syahdu tepian Sungai Brantas dan aktivitas perahu tradisional.
Jombang – Ramadan selalu identik dengan tradisi ngabuburit, momen menunggu azan Magrib yang diisi dengan beragam aktivitas santai. Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ada satu lokasi yang belakangan menjadi primadona warga untuk menikmati sore hari, yakni Tambangan Prau Nogo Joyo di Desa sekaligus Kecamatan Megaluh.
Berbeda dengan suasana alun-alun atau pusat keramaian kota, ngabuburit di tepian Sungai Brantas menawarkan panorama yang lebih tenang dan alami. Prau getek, sebutan warga untuk perahu penyeberangan tradisional, tampak hilir mudik mengangkut penumpang menyeberangi sungai.
Tambangan ini menjadi jalur penghubung antara Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang dengan Kecamatan Jatikalen, Kabupaten Nganjuk, serta Kecamatan Plandaan dan wilayah sekitarnya. Aktivitas penyeberangan yang masih berlangsung secara tradisional justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Menjelang matahari terbenam, suasana di lokasi semakin memikat. Semburat warna jingga keemasan memantul di permukaan air Sungai Brantas, berpadu dengan hijaunya tanggul yang membentang di sisi aliran sungai. Angin sore berembus pelan, menciptakan suasana yang syahdu dan menenangkan.
Setiap sore selama Ramadan, tepian tanggul dipadati warga. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang berkumpul dengan teman-teman sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Fauziyah Az-Zahra (19), warga Kecamatan Sumobito, mengaku sengaja datang setelah mendengar rekomendasi dari teman dan melihat unggahan di media sosial.
“Saya penasaran karena banyak yang bilang suasananya beda. Biasanya ngabuburit di tempat ramai, tapi di sini lebih tenang dan alami. Baru pertama kali merasakan sensasi seperti ini di Jombang,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Menurut Zahra, melihat prau getek yang terus beroperasi di tengah cahaya matahari yang perlahan tenggelam menghadirkan pengalaman sederhana namun hangat.
“Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, tempat seperti ini mengingatkan kita bahwa keindahan sering kali ada di hal-hal yang sederhana,” tambahnya.
Hal senada disampaikan M. Fadhul Raffi (21), warga Kecamatan Kesamben. Ia datang bersama teman-temannya untuk menghabiskan waktu menjelang berbuka.
“Awalnya cuma ikut teman, ternyata seru. Bisa lihat langsung aktivitas penyeberangan, foto-foto dengan latar sunset, dan suasananya nggak terlalu bising,” katanya.
Bagi Raffi, Tambangan Prau Nogo Joyo bukan sekadar tempat menunggu azan Magrib. Lokasi ini menjadi ruang berkumpul yang sederhana dan ramah di kantong. Tanpa tiket masuk atau fasilitas mewah, pengunjung sudah dapat menikmati suguhan alam yang autentik.
Seperti yang diketahui, ramainya tambangan saat Ramadan menunjukkan bahwa destinasi wisata tidak selalu harus berupa bangunan megah atau wahana modern. Aktivitas tradisional seperti penyeberangan prau getek di Sungai Brantas justru memiliki magnet tersendiri, terutama ketika dipadukan dengan nuansa bulan suci.
Ngabuburit di Tambangan Prau Nogo Joyo menjadi bukti bahwa pesona Jombang tidak hanya terletak pada pusat kota, tetapi juga pada sudut-sudut desa yang menyimpan keindahan alami dan kearifan lokal. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



