Pesantren di Jombang Ini Gunakan Metode 3 Bahasa dalam Ngaji Kitab Kuning
Ponpes Al Aqobah 4 Jombang hadirkan inovasi pengajian kitab kuning 3 bahasa (Arab, Inggris, Indonesia) selama Ramadan untuk siapkan santri berdakwah di level global.
Jombang – Pondok Pesantren Al Aqobah 4 di Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menerapkan metode pembelajaran ngaji kitab kuning yang tidak biasa selama bulan Ramadan.
Pengajian rutin di pesantren ini dilakukan dengan menggunakan tiga bahasa sekaligus, yakni Bahasa Arab dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Metode tersebut diterapkan dalam pengajian kitab kuning klasik yang biasanya hanya menggunakan bahasa Arab. Namun di Ponpes Al Aqobah 4, materi kitab diterjemahkan dan dijelaskan secara bergantian dalam bahasa Inggris dan Indonesia agar lebih mudah dipahami sekaligus melatih kemampuan bahasa santri.
Pengasuh Ponpes Al Aqobah 4, KH Akhmad Kanzul Fikri atau yang dikenal dengan sapaan Gus Fikri, menjelaskan bahwa metode ngaji tiga bahasa ini bertujuan membekali santri agar siap berdakwah setelah lulus dari pesantren.
Menurutnya, santri perlu memiliki kemampuan bahasa asing agar pesan dakwah Islam dapat disampaikan secara lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke masyarakat internasional.
“Santri kami dorong untuk terbiasa menggunakan bahasa asing agar jangkauan dakwahnya semakin luas dan mampu menjawab tantangan global,” ujar Gus Fikri saat dikonfirmasi, Jumat (20/2/2026).
Dalam praktiknya, pengajian kitab kuning dilakukan dengan membaca teks Arab, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dengan cara ini, santri tidak hanya memahami isi kitab, tetapi juga belajar menyampaikan kembali makna kitab dalam bahasa lain.
Atayanul Nafis, salah satu santri mengaku senang dengan metode pembelajaran tersebut. Ia menyebut belajar kitab kuning dengan terjemahan dua bahasa tambahan menjadi pengalaman baru yang menarik di lingkungan pesantren.
“Belajarnya jadi lebih seru karena bisa memahami kitab sekaligus belajar bahasa asing,” ungkapnya.
Metode ngaji tiga bahasa yang diterapkan Ponpes Al Aqobah 4 ini dinilai sebagai inovasi pendidikan pesantren di era modern. Program tersebut diharapkan mampu melahirkan santri yang memiliki pemahaman agama kuat sekaligus kompeten dalam komunikasi lintas bahasa.
Dengan model pembelajaran ini, pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai lembaga yang menyiapkan generasi pendakwah yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




