Gus Fahmi: Menjaga Hati dan Lisan Saat Puasa
Pengasuh Ponpes Putri Tebuireng KH Fahmi Amrullah Hadzik mengingatkan umat Islam agar menjaga hati dan lisan selama Ramadan, karena ucapan buruk dapat menghapus pahala puasa.
JOMBANG – Bulan suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri dengan menjaga hati serta ucapan.
Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng sekaligus Ketua PCNU Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, dalam tausiah Ramadan, Selasa (10/3/2026).
Gus Fahmi, sapaan akrabnya mengingatkan umat Islam bahwa kualitas ibadah puasa sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang menjaga hati dan lisan.
Untuk menggambarkan pentingnya dua hal tersebut, Gus Fahmi mengisahkan hikmah dari Lukman Al Hakim, sosok yang dikenal karena kebijaksanaannya. Diceritakan, suatu hari majikan Lukman memerintahkannya menyembelih kambing dan membawa bagian tubuh yang paling baik. Lukman kemudian menyerahkan hati dan lidah kambing kepada tuannya.
Keesokan harinya, majikan tersebut kembali memberi perintah serupa, tetapi kali ini meminta bagian tubuh yang paling buruk. Menariknya, Lukman kembali membawa hati dan lidah. Hal itu membuat sang majikan heran hingga akhirnya meminta penjelasan.
Lukman pun menjawab bahwa hati dan lidah bisa menjadi bagian terbaik jika digunakan untuk kebaikan. Namun keduanya juga bisa menjadi bagian terburuk apabila dipakai untuk hal yang salah.
Dari kisah tersebut, Gus Fahmi menegaskan bahwa hati dan lisan memiliki peran besar dalam menentukan baik buruknya perilaku seseorang, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa.
Gus Fahmi kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang menjadi penentu baik buruknya seluruh anggota tubuh, yaitu hati.
“Jika hati dalam keadaan baik, maka seluruh perilaku manusia akan baik. Sebaliknya, jika hati rusak, maka seluruh perilaku pun ikut rusak,” ujar Gus Fahmi.
Selain menjaga hati, ia juga menekankan pentingnya mengendalikan ucapan. Menurutnya, keselamatan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga lisan.
“Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk berkata baik atau lebih baik diam apabila tidak mampu menjaga perkataan,” katanya.
Lebih jauh, Gus Fahmi menjelaskan adanya perbedaan antara hal yang membatalkan puasa dengan hal yang dapat menghilangkan pahala puasa.
Makan, minum, atau merokok memang membatalkan puasa secara hukum. Namun ucapan buruk, hinaan, atau ghibah bisa menghapus pahala puasa meskipun secara fikih puasanya tetap sah.
Gus Fahmi mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan nilai ibadah selain rasa lapar dan dahaga.
“Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga,” ungkapnya mengutip salah satu hadis Nabi.
Menurut Gus Fahmi, ucapan yang telah terlanjur keluar sering kali meninggalkan dampak yang sulit diperbaiki, terlebih jika telah melukai perasaan orang lain. Luka akibat perkataan bahkan bisa lebih sulit disembuhkan dibandingkan luka fisik.
Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, menjaga hati dari prasangka buruk, serta menahan lisan dari perkataan yang menyakiti orang lain.
“Puasa bukan sekadar menahan apa yang masuk ke dalam mulut, tetapi juga menahan apa yang keluar darinya,” ucapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



