https://jombang.times.co.id/
Berita

Ribuan Jamaah Tuntaskan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU di Tebuireng

Senin, 05 Januari 2026 - 11:25
Menembus Hujan, Ribuan Jamaah Tuntaskan Napak Tilas Pendirian NU di Tebuireng Ribuan Jemaah Nekat Jalan Kaki Ikuti Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU dari Pendopo Jombang menuju Pesantren Tebuireng, Minggu (4/1/2026). (FOTO: Rohmadi/TIMES Indonesia)

TIMES JOMBANG, JOMBANG –  Ribuan jamaah peserta Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) akhirnya tiba di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Minggu (4/1/2025) malam.

Hujan yang mengguyur sepanjang perjalanan tak menyurutkan semangat para peserta untuk menuntaskan rangkaian napak tilas sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah lahirnya NU.

Kegiatan ini dimulai sejak pagi hari dari Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan, Madura. Para peserta menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki sekitar 16 kilometer menuju Pelabuhan Kamal. Dari sana, rombongan menyeberang ke Surabaya menggunakan perahu dan kapal feri menuju Pelabuhan Tanjung Perak.

Setibanya di Surabaya, perjalanan dilanjutkan dengan bus dan kereta api menuju Jombang. Dari Alun-alun Jombang, para jamaah kembali berjalan kaki sejauh kurang lebih enam kilometer hingga tiba di Pesantren Tebuireng.

Ribuan-Jemaah-Nekat-Jalan-Kaki-Ikuti-Napak-Tilas-Isyaroh-Pendirian-NU-a.jpg

Napak tilas ini digelar dalam rangka memperingati satu abad Nahdlatul Ulama versi Masehi (1926–2026), sekaligus meneladani perjuangan para muassis NU dalam merintis organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

Dalam rangkaian kegiatan, turut dikirab replika tongkat dan tasbih milik Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kirab dimulai dari Bangkalan hingga Jombang dan dibawa langsung oleh KH Azaim Ibrohimi, cucu KH As’ad Syamsul Arifin sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Di Tebuireng, replika pusaka tersebut diserahkan kepada Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Kirab ini merepresentasikan perjalanan KH As’ad Syamsul Arifin dalam menyampaikan isyarat dari Syaichona KH Cholil Bangkalan berupa tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari, yang menjadi salah satu penanda awal berdirinya NU.

Ribuan-Jemaah-Nekat-Jalan-Kaki-Ikuti-Napak-Tilas-Isyaroh-Pendirian-NU-b.jpg

Salah seorang peserta, Yeyed (41) asal Situbondo, mengatakan bahwa hujan dan perjalanan panjang tidak menjadi penghalang bagi para jamaah.

“Ini napak tilas isyarah berdirinya NU. Kami berangkat dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo sejak pukul enam pagi dan berjalan kaki sampai Pelabuhan Kamal,” ujarnya.

Ia menyebutkan, jumlah peserta dalam rombongannya mencapai lebih dari seribu orang.

“Motivasinya karena cinta kepada NU dan para guru. Harapannya NU semakin jaya dan semakin solid,” tambahnya.

Peserta lainnya, Ahmad Fauzi (26), juga dari Situbondo, mengaku telah menempuh perjalanan sekitar 24 kilometer dengan berjalan kaki.

“Dari Bangkalan ke Pelabuhan Kamal jalan kaki, naik kapal ke Surabaya, lanjut bus ke Jombang, lalu dari alun-alun berjalan lagi sekitar enam kilometer sampai Tebuireng,” jelasnya.

Meski perjalanan terbilang berat, Ahmad mengaku tidak merasa lelah. Menurutnya, apa yang ia alami tidak sebanding dengan perjuangan para pendahulu NU dalam menghadapi penjajahan.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyambut positif pelaksanaan napak tilas tersebut. Ia berharap kegiatan ini membawa keberkahan luas.

“Mudah-mudahan menjadi berkah besar bagi warga Nahdlatul Ulama dan lebih luas lagi bagi bangsa Indonesia. Dengan berkah ini, NU semakin kuat dan terus menebarkan kemaslahatan, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menilai napak tilas ini penting sebagai pengingat perjalanan panjang NU selama satu abad.

“Banyak pesan dari para muassis NU yang harus kita kontekstualisasikan dengan perkembangan zaman, agar NU tetap menjadi rumah besar umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.

Gus Kikin juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah di tengah dinamika organisasi.

“NU sangat besar, dengan jumlah warga lebih dari 100 juta. Konflik mungkin sulit dihindari, tetapi kebersamaan seperti ini menumbuhkan kesadaran bahwa persatuan dan ukhuwah adalah kunci yang harus terus dijaga,” ucapnya. (*)

Pewarta : Rohmadi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jombang just now

Welcome to TIMES Jombang

TIMES Jombang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.